Diberdayakan oleh Blogger.

Jumat, 06 Februari 2015

Ulang Tahun yang Ke-16

Ulang Tahun yang Ke-16

“Saeng il Chuk ka hamnida, Saeng il Chuk ka hamnida, Ji gu e seo, u ju e seo, Je il saranghamnida, Kkoppodadeo gopkke, Byeolbodadeo balkke, Sajabodayongam hage… Happy birthday to you”, Sorak sorai para sahabatku kepada dia.

Namun Aku hanya bisa melihatnya, karena Aku malu bila ada di dekatnya. Dia, dia adalah Rendy, teman sekelasku yang ku suka dari kelas 10 dan sampai sekarang aku masih memendam rasa suka ku terhadapnya.
Ulang tahunnya yang ke-16.

“Dapat hadiah apa Ren ?”, Tanya Anis (teman sekelasku saat kami mengerjakan tugas fisika).
“Aku dapat boneka, coklat dan bunga tadi malam “ , Jawabnya
“Mungkin aku tidak bisa memberimu boneka, coklat, ataupun bunga. Yang aku bisa hanya membuat ini untukmu (sambil memegangi flashdisk yang berisi sesuatu untuknya), semoga kamu senang “, Kataku dalam hati agak pesimis.
                                                            ***
“Soal ini aku yang mengerjakan ya ?”. Tanya-nya pada kelompok kami saat mengerjakan matematika.
Dibawa laptop sari di hadapannya, setelah sekitar 5 menit dia mengembalikannya lagi.
“Gimana Ren ? sudah selesai ? “. Tanya Bagus (teman sekelompok kami) sambil tersenyum mengejek.
“Susah sekali soal ini, ini pasti yang membuat salah soal”, Jawabnya
Kami pun tertawa bersama karena tingkahnya.
“Na Ana, soal ini Gimana kok bisa hasilnya 12 ?”, Tanya-nya padaku.
Dengan jantung yang tiba-tiba berdetak kencang, aku menjawab pertanyaannya.
Sampai rumah, sepanjang hari aku selalu memikirkannya khususnya saat aku dapat berbincang dengannya seperti tadi siang.

Aku masih ingat saat pertama aku melihatnya di kelas, dengan isengnya aku foto dia diam-diam tapi suatu hari dia melihatnya, akupun kaget dan pura-pura tidak tahu apa-apa, 3 menit berlalu, dia masih melihatku, aku grogi di buatnya, aku tak tahu harus bagaimana, sampai saat itupun namanya masih misteri dan aku masih mencari cara untuk mengetahuinya.
Saat pelajaran Agama guru meng-absen siswa, aku pun terus melihatnya sampai saat ia mengangkat tangannya, waktu itu juga aku  tahu namanya Rendy Saputra.

Namun beberapa bulan kemudian ada berita yang membuat hatiku sedikit terluka, ia telah memiliki seorang kekasih, aku coba untuk tidak percaya, tapi ternyata perempuan itu kelas sebelahku namanya serly. Setelah aku mengetahuinya setiap hari aku selalu berfikir dengan kerasnya, apa ini yang di maksud cinta bertepuk sebelah tangan ? apa ini yang di namakan patah hati ? semua pertanyaan itu muncul tanpa ku sadari, air mataku jatuh bercucuran. Aku tak bisa berfikir jernih, setiap waktu aku selalu teringat padanya.

Aku ingat saat pertama kali ku tatap wajahnya. Aku ingat saat pertama kali ku lihat senyumnya. Aku ingat saat pertama kali ku dengar tawanya. Namun, sekarang apa yang ku lihat hanyalah luka yang menyayat.

Aku ingin melupakannya, namun sangat sulit untukku lakukan. Karena memang setiap hari aku selalu melihatnya dan melihatnya. Ditambah lagi 2 bulan kemudian, dia dikabarkan bersama Lili, aku percaya kabar itu karena aku melihat sendiri Rendy menyimpan foto Lili di laptopnya. Begitu pula dengan Yesi, aku juga melihatnya sendiri, ditambah lagi taman-temanku sering mengejeknya bersama Yesi. Semua itu membuat diriku semakin bingung.
                                                            ***
Di depan sekolahan.
“Rendy…”, Sapaku padanya saat kami berpapasan.
“Tu kan benar Na, dia aja udah lupa sama kamu. Udahlah Na, lupain aja dia”, Kataku dalam hati saat dia tak menjawab sapaku tadi.
Besok malamnya di facebook.
“Aku sangat bahagia bisa membuatmu tertawa bebas seperti ini tanpa memikirkan beban yang sedang kau hadapi”, Status dalam facebook Rendy.
Besok siangnya saat pulang sekolah ada seorang wanita yang mencarinya, lalu mereka berbincang-bincang panjang kali lebar sama dengan luas.
“Aku sudah mulai bosan melihatnya, dan aku tak ingin berjumpa dengannya lagi. Karna dia telah membuatku seperti ini”.
“Tapi kamu kan bukan siapa-siapanya dia Na ? sadarlah Na, mungkin memang kamu tidak cocok untuk menjadi pendampingnya. Jadi temannya saja kan sudah lebih baik daripada tidak melihatnya lagi ?”.

“Namun tetap saja, aku sangat menyukainya, tidak mungkin aku melepaskannya begitu saja, apalagi saat aku melihat poninya yang bergoyang-goyang ala boyband saat dia lari“. Renunganku dalam hati yang sangat bimbang.
Di tangga depan kelasku.
“Rendy… bantuin napa?” , Teriakku padanya.
“Dasar Rendy, udah nabrak orang bukannya minta maaf malah nyelonong aja “. Gertakku padanya, namun dia tetap mengabaikannya.
Tahu ah, aku tidak mau lagi berurusan dengannya, apalagi bertemu, tak sudi aku. Sebagai seorang lelaki, dia tidak peka sama sekali.
                                                            ***
“Na, aku minta file makalah komunikasi datamu ya ?”. Tanya Velly (teman sekelasku yang paling lebay).
“Aku tidak bawa file-nya, laglipula kamu juga bukan kelompokku kan ?”. jawabku.
Pada hari itu ada 4 orang yang minta file itu kepadaku dan aku menjawab jawaban yang sama seperti saat aku menjawab Velly.
“Na, besok ada PR atau tidak ?”. Tanya Rendy dalam facebook.
Tiba-tiba saja hatiku berdetak sangat cepat, karena memang setelah ada kabar dia pacaran, dia tidak pernah berhubungan denganku lagi.
“Tidak ada sih, tapi besok itu paling lambat mengumpulkan tugas makalah komunikasi data “. Balasku.
“Aku minta file punyamu boleh ?”. tanyanya.
“Ini sudah aku ringkas, tapi kamu edit dulu nanti ya, kalau sama akan di marahi gurunya (sambil aku megirimkan file-nya) “.
                                                            ***
15 Agustus 2014 saat pelajaran Bahasa Indonesia kami berkumpul dalam satu kelompok.
“Ciee… Rendy yang habis kencan“. Kata Alfi dengan nada mengejek.
 “Siapa yang kencan ?. aku aja tadi nganter coki ke kamar mandi“, Jawabnya dengan mata melotot.

“Lalu, Septi, Lili, dan Yesi itu siapa ?”. Tanya Mita (teman sekelompokku) dengan penuh rasa penasaran.

“Itu bukan siapa-siapa. Aku hanya mengagumi mereka “. Tegasnya.
Belum puas aku mendengar jawabannya, malamnya aku Tanya dia lewat facebook.
“Ren, apa benar kamu hanya mengagumi Serly, Lili, dan Yesi ? terus maksud status kamu itu apa? Terus siapa cewek yang waktu pulang sekolah nemuin kamu? Terus kenapa waktu aku sapa kamu, kamu nggak bales ? terus kenapa saat aku jatuh di tangga, kamu nggak minta maaf atau bantuin aku beresinnya ? kenapa ?”. Tanyaku agak ngotot.

“Terus, terus, terus… nabrak tiang. Kenapa sih kamu Na ? nanya-nya kok heboh gitu ? “. Herannya.
“Udahlah Ren jawab aja semua pertanyaanku itu, aku cuma ingin tau“, Jawabku memohon.
“Ya, bener, aku cuma ngagumin mereka. Kapan kamu nyapa aku? Aku aja nggak tau”, jawabnya.
“Berenan kamu nggak tau?”, tegasku.
“Bener, aku nggak tau dan aku juga nggak ngilat kamu waktu itu. Ya udahlah, ini udah malem, cepetan tidur sana besok bangunnya kesiangan lho”, pintanya.
Selang beberapa detik dia langsung off,
“Padahal belum di jawab semua pertanyaanku”, kesalku dalam hati.
Malam itu, aku tidak menuruti permintaannya untuk cepat tidur, karena aku masih penasaran, apa jawaban pertanyaan yang lainnya.
Besoknya waktu istirahat aku lari mengejarnya, dan aku bertanya kembali pertanyaan yang belum di jawabnya tadi malam.

“Kamu masih aja penasaran sih Na, apa jawabanku tadi malem belum cukup?”,Herannya.
“Belum, kamu belum jawab waktu aku jatuh di tangga, siapa wanita yang kamu temui waktu pulang sekolah, dan untuk siapa status kamu waktu itu”, jawabku.
“Ok ok, aku akan jawab semua biar kamu puas “,  Jawabnya dengan nada mengeras.
“Baiklah, aku akan mendengarkannya “, Jawabku.
 “Soal kamu jatuh di tangga itu, aku lagi buru-buru aku nggak denger kamu. Soal cewek itu, itu anak kelas sebelah yang tanya tugas Matematika yang dulu kamu jelasin ke aku. Soal status itu, itu buat adik aku yang lagi sakit. Udah tau semua kan kamu?”, tegasnya.
Hatiku seketika terasa tenang, perasaan yang dulu bimbang, kini telah hilang. Namun aku merasa bersalah karena menuduhnya yang tidak-tidak.
“Maafin aku ya Ren aku gak tau kalau adik kamu sakit, dan aku juga minta maaf karena udah ganggu waktu kamu”, tuturku dengan penuh penyesalan.
“Iya iya gakpapa, ya udah ayo ke kantin bareng aku “, jawabnya dengan tersenyum.
“Untung aja dia maafin aku”, kataku dalam hati.
“Baiklah, sebagai ganti yg tadi dan yg lalu, kali ini aku akan traktir kamu di kantin”, Kataku padanya.
“Sip, boleh juga tuh “, jawabnya bersama senyuman manisnya.
“Akhirnya, dia dan kebiasaannya balik lagi, senangnya hatiku ini”,gumamku dalam hati.
“Kenapa kamu Na? kok senyum-senyum sendiri gitu? Kesurupan ya kamu?”, herannya.
“Ha? apa? eh, nggak papa kok Ren”. Jawabku sedikit bingung.

Sejak saat perbincangan itu, aku dekat kembali dengannya, memikirkannya setiap waktu dan rasa sukaku terhadapnya mulai tumbuh kembali. Sampai saat ini aku masih menyukainya, aku masih memendam rasa yang selalu tak dapat terungkapkan oleh bibirku.

Sekarang, tidak pernah ku dengar lagi berita tentangnya yang menyukai wanita lain, dan aku juga semakin akrab saja dengannya, jadi aku semakin bersemangat untuk mendapatkan mutiara di dalam hatinya yang masih tersimpan rapi.

Namun, sampai saat ini aku belum mendengar apakah dia tahu siapa yang memberinya animated gif (isi dari flashdik-ku yg aku copy-kan dulu) saat ulang tahunnya yang ke-16  lalu.
Itulah salah satu kisah cinta yang ku alami, kisah cinta dalam hati yang entah kapan menjadi cinta dua sejoli yang saling mengasihi dan menyayangi. Harapanku, aku dan dia dapat menyatu layaknya kopi dan susu dalam coffe mix.

Sekian dan Terimakasih.....