Ulang Tahun yang Ke-16
“Saeng il Chuk ka hamnida, Saeng il Chuk ka
hamnida, Ji gu e seo, u ju e seo, Je il saranghamnida, Kkoppodadeo gopkke,
Byeolbodadeo balkke, Sajabodayongam hage… Happy birthday to you”, Sorak sorai
para sahabatku kepada dia.
Namun
Aku hanya bisa melihatnya, karena Aku malu bila ada di dekatnya. Dia, dia
adalah Rendy, teman sekelasku yang ku suka dari kelas 10 dan sampai sekarang aku
masih memendam rasa suka ku terhadapnya.
Ulang
tahunnya yang ke-16.
“Dapat
hadiah apa Ren ?”, Tanya Anis (teman sekelasku saat kami mengerjakan tugas
fisika).
“Aku
dapat boneka, coklat dan bunga tadi malam “ , Jawabnya
“Mungkin
aku tidak bisa memberimu boneka, coklat, ataupun bunga. Yang aku bisa hanya
membuat ini untukmu (sambil memegangi flashdisk yang berisi sesuatu untuknya),
semoga kamu senang “, Kataku dalam hati agak pesimis.
***
“Soal
ini aku yang mengerjakan ya ?”. Tanya-nya pada kelompok kami saat mengerjakan
matematika.
Dibawa
laptop sari di hadapannya, setelah sekitar 5 menit dia mengembalikannya lagi.
“Gimana
Ren ? sudah selesai ? “. Tanya Bagus (teman sekelompok kami) sambil tersenyum
mengejek.
“Susah
sekali soal ini, ini pasti yang membuat salah soal”, Jawabnya
Kami
pun tertawa bersama karena tingkahnya.
“Na
Ana, soal ini Gimana kok bisa hasilnya 12 ?”, Tanya-nya padaku.
Dengan
jantung yang tiba-tiba berdetak kencang, aku menjawab pertanyaannya.
Sampai
rumah, sepanjang hari aku selalu memikirkannya khususnya saat aku dapat
berbincang dengannya seperti tadi siang.
Aku
masih ingat saat pertama aku melihatnya di kelas, dengan isengnya aku foto dia
diam-diam tapi suatu hari dia melihatnya, akupun kaget dan pura-pura tidak tahu
apa-apa, 3 menit berlalu, dia masih melihatku, aku grogi di buatnya, aku tak
tahu harus bagaimana, sampai saat itupun namanya masih misteri dan aku masih
mencari cara untuk mengetahuinya.
Saat
pelajaran Agama guru meng-absen siswa, aku pun terus melihatnya sampai saat ia
mengangkat tangannya, waktu itu juga aku
tahu namanya Rendy Saputra.
Namun
beberapa bulan kemudian ada berita yang membuat hatiku sedikit terluka, ia
telah memiliki seorang kekasih, aku coba untuk tidak percaya, tapi ternyata
perempuan itu kelas sebelahku namanya serly. Setelah aku mengetahuinya setiap
hari aku selalu berfikir dengan kerasnya, apa ini yang di maksud cinta bertepuk
sebelah tangan ? apa ini yang di namakan patah hati ? semua pertanyaan itu
muncul tanpa ku sadari, air mataku jatuh bercucuran. Aku tak bisa berfikir
jernih, setiap waktu aku selalu teringat padanya.
Aku
ingat saat pertama kali ku tatap wajahnya. Aku ingat saat pertama kali ku lihat
senyumnya. Aku ingat saat pertama kali ku dengar tawanya. Namun, sekarang apa
yang ku lihat hanyalah luka yang menyayat.
Aku
ingin melupakannya, namun sangat sulit untukku lakukan. Karena memang setiap
hari aku selalu melihatnya dan melihatnya. Ditambah lagi 2 bulan kemudian, dia
dikabarkan bersama Lili, aku percaya kabar itu karena aku melihat sendiri Rendy
menyimpan foto Lili di laptopnya. Begitu pula dengan Yesi, aku juga melihatnya
sendiri, ditambah lagi taman-temanku sering mengejeknya bersama Yesi. Semua itu
membuat diriku semakin bingung.
***
Di
depan sekolahan.
“Rendy…”,
Sapaku padanya saat kami berpapasan.
“Tu
kan benar Na, dia aja udah lupa sama kamu. Udahlah Na, lupain aja dia”, Kataku
dalam hati saat dia tak menjawab sapaku tadi.
Besok
malamnya di facebook.
“Aku
sangat bahagia bisa membuatmu tertawa bebas seperti ini tanpa memikirkan beban
yang sedang kau hadapi”, Status dalam facebook Rendy.
Besok
siangnya saat pulang sekolah ada seorang wanita yang mencarinya, lalu mereka
berbincang-bincang panjang kali lebar sama dengan luas.
“Aku
sudah mulai bosan melihatnya, dan aku tak ingin berjumpa dengannya lagi. Karna
dia telah membuatku seperti ini”.
“Tapi
kamu kan bukan siapa-siapanya dia Na ? sadarlah Na, mungkin memang kamu tidak
cocok untuk menjadi pendampingnya. Jadi temannya saja kan sudah lebih baik
daripada tidak melihatnya lagi ?”.
“Namun
tetap saja, aku sangat menyukainya, tidak mungkin aku melepaskannya begitu
saja, apalagi saat aku melihat poninya yang bergoyang-goyang ala boyband saat
dia lari“. Renunganku dalam hati yang sangat bimbang.
Di
tangga depan kelasku.
“Rendy…
bantuin napa?” , Teriakku padanya.
“Dasar
Rendy, udah nabrak orang bukannya minta maaf malah nyelonong aja “. Gertakku
padanya, namun dia tetap mengabaikannya.
Tahu
ah, aku tidak mau lagi berurusan dengannya, apalagi bertemu, tak sudi aku.
Sebagai seorang lelaki, dia tidak peka sama sekali.
***
“Na, aku minta file
makalah komunikasi datamu ya ?”. Tanya Velly (teman sekelasku yang paling
lebay).
“Aku tidak bawa
file-nya, laglipula kamu juga bukan kelompokku kan ?”. jawabku.
Pada hari itu ada 4
orang yang minta file itu kepadaku dan aku menjawab jawaban yang sama seperti saat
aku menjawab Velly.
“Na, besok ada PR
atau tidak ?”. Tanya Rendy dalam facebook.
Tiba-tiba saja hatiku
berdetak sangat cepat, karena memang setelah ada kabar dia pacaran, dia tidak
pernah berhubungan denganku lagi.
“Tidak ada sih, tapi
besok itu paling lambat mengumpulkan tugas makalah komunikasi data “. Balasku.
“Aku minta file
punyamu boleh ?”. tanyanya.
“Ini sudah aku
ringkas, tapi kamu edit dulu nanti ya, kalau sama akan di marahi gurunya
(sambil aku megirimkan file-nya) “.
***
15
Agustus 2014 saat pelajaran Bahasa Indonesia kami berkumpul dalam satu
kelompok.
“Ciee…
Rendy yang habis kencan“. Kata Alfi dengan nada mengejek.
“Siapa yang kencan ?. aku aja tadi nganter
coki ke kamar mandi“, Jawabnya dengan mata melotot.
“Lalu,
Septi, Lili, dan Yesi itu siapa ?”. Tanya Mita (teman sekelompokku) dengan
penuh rasa penasaran.
“Itu
bukan siapa-siapa. Aku hanya mengagumi mereka “. Tegasnya.
Belum
puas aku mendengar jawabannya, malamnya aku Tanya dia lewat facebook.
“Ren,
apa benar kamu hanya mengagumi Serly, Lili, dan Yesi ? terus maksud status kamu
itu apa? Terus siapa cewek yang waktu pulang sekolah nemuin kamu? Terus kenapa
waktu aku sapa kamu, kamu nggak bales ? terus kenapa saat aku jatuh di tangga,
kamu nggak minta maaf atau bantuin aku beresinnya ? kenapa ?”. Tanyaku agak
ngotot.
“Terus,
terus, terus… nabrak tiang. Kenapa sih kamu Na ? nanya-nya kok heboh gitu ? “.
Herannya.
“Udahlah
Ren jawab aja semua pertanyaanku itu, aku cuma ingin tau“, Jawabku memohon.
“Ya,
bener, aku cuma ngagumin mereka. Kapan kamu nyapa aku? Aku aja nggak tau”,
jawabnya.
“Berenan
kamu nggak tau?”, tegasku.
“Bener,
aku nggak tau dan aku juga nggak ngilat kamu waktu itu. Ya udahlah, ini udah
malem, cepetan tidur sana besok bangunnya kesiangan lho”, pintanya.
Selang
beberapa detik dia langsung off,
“Padahal
belum di jawab semua pertanyaanku”, kesalku dalam hati.
Malam
itu, aku tidak menuruti permintaannya untuk cepat tidur, karena aku masih
penasaran, apa jawaban pertanyaan yang lainnya.
Besoknya
waktu istirahat aku lari mengejarnya, dan aku bertanya kembali pertanyaan yang
belum di jawabnya tadi malam.
“Kamu
masih aja penasaran sih Na, apa jawabanku tadi malem belum cukup?”,Herannya.
“Belum,
kamu belum jawab waktu aku jatuh di tangga, siapa wanita yang kamu temui waktu
pulang sekolah, dan untuk siapa status kamu waktu itu”, jawabku.
“Ok
ok, aku akan jawab semua biar kamu puas “,
Jawabnya dengan nada mengeras.
“Baiklah,
aku akan mendengarkannya “, Jawabku.
“Soal kamu jatuh di tangga itu, aku lagi
buru-buru aku nggak denger kamu. Soal cewek itu, itu anak kelas sebelah yang
tanya tugas Matematika yang dulu kamu jelasin ke aku. Soal status itu, itu buat
adik aku yang lagi sakit. Udah tau semua kan kamu?”, tegasnya.
Hatiku
seketika terasa tenang, perasaan yang dulu bimbang, kini telah hilang. Namun
aku merasa bersalah karena menuduhnya yang tidak-tidak.
“Maafin
aku ya Ren aku gak tau kalau adik kamu sakit, dan aku juga minta maaf karena
udah ganggu waktu kamu”, tuturku dengan penuh penyesalan.
“Iya
iya gakpapa, ya udah ayo ke kantin bareng aku “, jawabnya dengan tersenyum.
“Untung
aja dia maafin aku”, kataku dalam hati.
“Baiklah,
sebagai ganti yg tadi dan yg lalu, kali ini aku akan traktir kamu di kantin”,
Kataku padanya.
“Sip,
boleh juga tuh “, jawabnya bersama senyuman manisnya.
“Akhirnya,
dia dan kebiasaannya balik lagi, senangnya hatiku ini”,gumamku dalam hati.
“Kenapa
kamu Na? kok senyum-senyum sendiri gitu? Kesurupan ya kamu?”, herannya.
“Ha?
apa? eh, nggak papa kok Ren”. Jawabku sedikit bingung.
Sejak
saat perbincangan itu, aku dekat kembali dengannya, memikirkannya setiap waktu dan
rasa sukaku terhadapnya mulai tumbuh kembali. Sampai saat ini aku masih
menyukainya, aku masih memendam rasa yang selalu tak dapat terungkapkan oleh
bibirku.
Sekarang,
tidak pernah ku dengar lagi berita tentangnya yang menyukai wanita lain, dan
aku juga semakin akrab saja dengannya, jadi aku semakin bersemangat untuk
mendapatkan mutiara di dalam hatinya yang masih tersimpan rapi.
Namun,
sampai saat ini aku belum mendengar apakah dia tahu siapa yang memberinya
animated gif (isi dari flashdik-ku yg aku copy-kan dulu) saat ulang tahunnya
yang ke-16 lalu.
Itulah
salah satu kisah cinta yang ku alami, kisah cinta dalam hati yang entah kapan
menjadi cinta dua sejoli yang saling mengasihi dan menyayangi. Harapanku, aku
dan dia dapat menyatu layaknya kopi dan susu dalam coffe mix.
Sekian dan Terimakasih.....

0 komentar:
Posting Komentar